Refleksi pindah part 3: Menata Ulang Agar Tidak Serakah
Akhirnya petualangan pindah kosku selesai dan kini sudah sebulan tinggal di tempat baru. Barang-barangku sudah mulai tertata dan diseleksi untuk disumbangkan satu persatu. Sekaligus perlahan menerima kenyataan dan menanamkan dalam benak bahwa aku tidak bisa sembarangan menambah barang baru lagi. Proses ini membuatku fokus pada mengurus kamar kosku.
Proses ini melelahkan karena aku dipaksa untuk menata ulang barang-barangku. Namun, aku jadi belajar mengurus sesuatu satu persatu, dan memahami bahwa aku memang butuh waktu untuk mengurus diriku sendiri. Awalnya aku merasa bersalah menghabiskan waktu untuk mengurus barang-barangku, namun kemudian aku menyadari bahwa jika bukan aku yang mengurusnya maka semua barang ini tidak akan terurus dengan sendirinya.
Hal serupa beres-beres ini terjadi juga pada tataran batiniahku. Namun, bedanya aku sudah mencicilnya sejak beberapa tahun lalu. Tapi tetap saja kemudian muncul rasa bersalah karena menghabiskan waktu untuk mengurus diriku, karena aku jadi tidak bisa mengikuti standar pertumbuhan anak seusiaku. Aku menyadari bahwa aku menjadi seperti singkong yang tumbuh dan berbuah di bawah, di antara hamparan pohon buah-buahan.
Melalui proses beres-beres diri dan kamar kos ini aku belajar untuk menerima timing pertumbuhanku berbeda dengan anak seumuranku. Ternyata selama ini yang membuatku kelelahan adalah terus menerus menyalahkan diriku karena tidak bisa mengikuti standar pertumbuhan anak seusiaku. Lalu lupa mengapresiasi semua perjuangan diriku untuk bangkit berkali-kali dari kejatuhan dan kehancuran berkali-kali. Bangkit berkali-kali dari minus menurutku adalah bentuk prestasi juga, termasuk memutuskan untuk terus tetap hidup tanpa menyakiti diri sendiri.
Meskipun ada cita-cita yang tidak bisa diwujudkan karena ternyata sudah tidak align dengan misi jiwa, ada luka-luka yang disembuhkan yang menguras uang, tenaga dan waktu, dan ada barang yang harus dibuang karena sudah tidak dibutuhkan lagi untuk mendukung hidupku saat ini, setidaknya aku tidak lagi membawa masa lalu yang tidak kubutuhkan untuk pertumbuhanku di masa kini dan masa depan nanti.
Merelakan hal-hal ini mengajarkanku untuk tidak menjadi serakah, dan membuatku menerima batasanku maupun batasan kamar kosku. Ternyata tidak seburuk itu memiliki batasan, daripada hidup dalam keserakahan yang tidak pernah puas dan cukup.
Komentar
Posting Komentar