Memaknai Venus Retrograde in Scorpio: Rasa Sakit Kolektif Sebagai Bagian dari Diri
Konon katanya para leluhur terdahulu peka terhadap segala yang ada di sekitarnya, hingga bisa memahami bahasa tumbuhan, hewan, langit, musim, tanah, dan lainnya. Maka mereka menciptakan sistem penghitungan untuk mengumpulkan pengetahuan yang mereka dapatkan dari keterhubungan mereka dengan alam dan aspek-aspek di dalamnya. Agar jika sistem hitungan ini sudah tidak bisa dipakai, artinya telah terjadi perubahan besar-besaran di alam dan segala di sekitar mereka. Jika perubahan besar terjadi, maka mereka harus membuat strategi hidup yang baru karena sudah tidak bisa bergantung pada strategi lama. Namun, strategi ini tidak bisa dilepaskan dari sistem hukum alam raya, karena manusia tidak akan pernah bisa melawan alam; sesuatu yang lebih besar dari manusia itu sendiri.
Pada zaman ini, keterhubungan manusia terhadap sekitarnya ditunjukkan dengan demonstrasi. Saat api menghabisi jutaan hektar hutan tua yang menyokong udara dan air bersih, untuk satu negara, tidak hanya satu pulau, maka tentu saja manusia di zaman ini perlu marah. Saat hutan tua habis, sumber pangan, sumber obat, dan sumber pengetahuan juga ikut habis, maka tentu saja manusia yang bergantung pada hutan tua ini perlu marah. Kemarahan atas hak dasar yang tidak mampu dipenuhi oleh negara bahkan dirampas oleh negara adalah kemarahan yang valid sebagai rakyat yang selalu menyokong negara melalui pajak.
Venus adalah tentang relasi dan harmoni. Scorpio adalah tentang transformasi. Retrograde adalah tentang instropeksi diri. Maka, momentum venus retrograde di scorpio adalah tentang memaknai lagi relasi kita terhadap transformasi. Apa yang terjadi di fase ini (3 Oktober sampai 13 November 2026) ini memantik kembali keterhubungan diri sendiri dan diri sendiri, diri sendiri dan manusia di sekitar kita, diri sendiri dengan alam, melalui perubahan yang dialami di sekitar kita. Pemaknaan ulang ini adalah tugas manusia selama hidup, terus berpikir untuk merespon perubahan di sekitarnya agar menjadi kebijaksanaan baru dalam melangkahkan kaki di masa depan.
Jika kondisi alam secara besar-besaran bertransformasi (berubah) ke arah yang merugikan manusia karena perbuatan negara dan korporasi yang mengkhianati rakyat, maka apa yang bisa kita perbuat? Jika pihak yang selama ini kita sokong ternyata yang diam-diam menghabisi nyawa kita dan sekitar kita, maka apa yang bisa kita perbuat? Jika diri tiba-tiba alami memiliki emosi intense yang ternyata karena ikut merasakan kesedihan dan kemarahan kolektif dari hutan tua yang ribuan hektar dihabisi, maka apa yang akan diri ini lakukan terhadap emosi ini? Jika sekitar kita alami penderitaan hidup akibat alam yang dipaksa kepemilikan oleh pemegang uang terbanyak di negara yang berkongsi dengan militer dan mafia yang bisa menghabisi nyawamu sewaktu-waktu, maka apa yang bisa kita perbuat?
Barangkali menjadi manusia adalah memang menjadi terhubung dengan alam dan segala di sekitar kita, seperti yang hidup yang dijalani leluhur jaman dahulu. Kapitalisme memang bisa membuat kita individualis, tapi posisi manusia sebagai bagian dari alam dan bergantung pada alam tidak akan pernah bisa diubah karena telah menjadi hukum alam.
Komentar
Posting Komentar