Postingan

Media Komunitas dan Representasi Penyuaraan Kebutuhan Masyarakat

Gambar
gambar dari google Ramai pemberitaan di media massa arus utama tidak surut begitu saja usai ajang pemilihan umum presiden republik indonesia kemarin. Hingga kini setiap isu yang didapati kemungkinan tinggi terhadap korupsi atau kebijakan yang tidak sesuai harapan rakyat dengan mudah menjadi kontroversi. Tidak selesai menjadi berita di media massa, penggiringan isu melalui platform miniblog twitter ternyata bersuara lebih gencar! Sayangnya, tidak semua media arus utama mampu atau mau mengangkat isu-isu kaum minoritas seperti isu-isu konflik agraria atau potensi desa-desa di Indonesia.

22 Tahun dan Hal-hal (Material) yang Hilang

Gambar
Beberapa waktu belakangan ini saya sering depresi ketika memikirkan uang . Saya habis kehilangan uang dengan nominal hasil menguras keringat saya selama ini. Saya butuh membeli beberapa barang, salah satunya sepatu. Saya tidak bisa membeli sepatu tersebut. Saya juga harus membayar hutang kepada beberapa orang dan harus menundanya. Saya juga menunda pembayaran iuran di beberapa tempat dan tidak membalas sms beberapa orang karena tidak sanggup beli pulsa pada saat itu juga. 

3 Remaja Difabel & Angkringan Tuli Madre

Gambar
Spanduk di atas gerobak angkringan Madre Mumpung saya masih terhitung remaja (uhuk), saya mau ikutan #OpiniRemaja #KitaSensitif buat Hari Remaja Internasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Kampung Halaman hehehe. Begini, sekitar bulan Maret saya mencari-cari sebuah angkringan bernama Madre. Angkringan ini berhasil saya temukan di bagian pojok kawasan Taman Kuliner Pringwulung. Angkringan ini terdiri dari 2 tingkat, di bawah ada kursi-kursi di ruang terbuka dan di lantai dua adalah lesehan. Ada tulisan “Angkringan Tuli” dan spanduk berisi abjad A hingga Z dengan bahasa isyarat di depan angkringan. Ada pula spanduk bertuliskan “50% pekerja di Angkringan Madre adalah tuli” di lantai bawah. (baca tulisan lain tentang Madre di sini )

The Judge: Menilik Peran Orang Tua Pada Masa Depan Anak (Review)

Gambar
The Judge adalah sebuah film drama Amerika 2014 yang disutradarai oleh David Dobkin. Film tersebut dibintangi oleh Robert Downey, Jr., Robert Duvall, Vera Farmiga, Vincent D'Onofrio, Jeremy Strong, Dax Shepard, dan Billy Bob Thornton. Judul dan poster film yang disutradarai oleh David Dobkin ini, terlihat tidak menarik.  Isu yang diangkat pun klasik. Lalu, kenapa saya bisa jatuh cinta dengan film ini? poster film the judge

Refleksi Hari Buruh: Ibu-ibu Rembang ke UGM

Gambar
Foto Ibu-Ibu Kendeng di Rektorat UGM Hari buruh baru saja kita rayakan. Marsinah kembali kita kenang. Tapi angka penduduk Indonesia yang bekerja sebagai buruh terus saja meningkat.  Kata kesejahteraan seolah jauh dari masa depan mereka. Hampir tidak ada lagi yang bekerja sebagai petani di negara ini.  Tanah milik warga terus saja terampas atau terpaksa dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sedangkan pemerintah terus menaikkan tingkat impor beras dan lainnya yang justru tidak memperbaiki permasalahan awal mengenai tanah. Postingan kali ini saya hanya menyuguhkan foto-foto yang saya ambil Maret silam tentang ibu-ibu Rembang yang memperjuangkan hak atas tanahnya yang terampas oleh modal.  Foto ibu-ibu yang kelak juga akan menjadi buruh saja ketika hak atas hidup bebas di tanahnya sendiri benar-benar terampas. Siapa lagi yang akan menjadi buruh?

Divortiare dan HER: Cerita tentang Perceraian

Gambar
Divortiare adalah novel kedua karya Ika Natassa yang terbit tahun 2008. Saya jatuh cinta pada metropop Gramedia yang ini melalui kisah perceraian Alexandra. HER adalah film karya Spike Jonze yang premiernya tahun 2014 dan mendapatkan banyak nominasi oscar. Saya jatuh cinta pada bagaimana Theodore mengakui sebab perceraiannya. Saya menyoroti isu perceraian yang dipaparkan kedua media penghibur ini meski barangkali maksud author keduanya bukan tentang perceraian. Sebenarnya saya memang menikmati cerita seputar pernikahan sejak remaja, HAHAHA.

Menjadi Minoritas di Tengah Mayoritas: #DemiRembang

Gambar
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Sebenarnya ibu-ibu di Rembang sana yang menjadi minoritas, sebab hanya mereka dan segelintir orang yang menyerukan hak-hak mereka atas tanah yang dirampas. Mereka melawan kegilaan yang sekarang menjadi kewajaran, modal. Ibu-ibu ini melawan rasaksa. Tapi bukankah perempuan memang selalu terlalu heroic? Tak gentar melawan kepedihan dan ketakutan? Saya bukan siapa-siapa dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk kasus Rembang. Buat yang belum tahu, itu lho kasus pembangunan pabrik semen massal yang selain akan merusak alam besar-besaran juga merusak masa depan para petani Rembang . Kasus serupa di Kendeng . Sebelumnya di Pati . Mereka hanya ingin mempertahankan hak atas tanah. Tanah sebenar-benar tumpah darah. Tapi apalah daya Ibu Pertiwi di tangan penguasa tanpa nurani?