Cerita Tentang Rumah Sakit dan Jaminan Kesehatan Negara Kita
alhamdulillah akhirnya posting lagi.
semoga makin bermutu,
amiin
postingan kali ini merupakan kisah nyata, jika ada kesamaan nama, tempat dan kejadian maka hanya kebetulan semata................................#berasalaginontonsinetron
jadi ---entah kenapa saya selalu membuka paragraf dengan kata jadi--- saya baru saja selesai mengikuti kelas antropologi kesehatan pada 8/5 lalu. dosennya menjelaskan mengenai bab rumah sakit. materinya sih baik-baik aja, lumayan menguras otak yang udah 2 tahun dicekokin materi IPS doang di SMA.
di akhir pertemuan, suasana mulai menegang. tepatnya ketika mengkaji kembali jenis dari Rumah Sakit berikut fungsinya. Rumah Sakit umum itu fungsinya untuk amal, Rumah Sakit dari instansi keagamaan itu untuk pengobatan sukarela alias gratis, sedangkan Rumah Sakit swasta baru yang meminta biaya. idealnya sih begitu, tapi kenyataannya?
belum selesai sampai di situ, kakak tingkat pun menceritakan pengalamannya ketika di UGD RS di kotanya.
"waktu itu adik saya sudah panas tinggi sekali sehingga dilarikan ke UGD, tetapi bukannya segera ditangani malah adik saya dibiarkan begitu saja. saya tanya ke tante saya, kenapa belum ada dokter yang urus, tante saya jawab, karena kita belum beres urusan administrasinya. lalu ketika ada dokter yang lewat, saya langsung minta beliau untuk periksa adik saya, tetapi dokternya malah jawab, wah maaf mas, itu bukan urusan saya! saya dokter bedah."
lalu kakak tingkat dari Singapura juga bercerita mengenai pengalamannya ketika di RS di kota saya. "ketika anak saya sakit, saya memasukkan dia ke rumah sakit yang terkenal bagus di kota ini. mereka bilang anak saya sakit banyak sekali dan sudah beberapa hari diobati oleh mereka tetapi tidak sembuh-sembuh. lalu saya obati anak saya menggunakan obat biasa dari Singapura dan langsung sembuh. saya jadi bingung apa yang sebenarnya terjadi?"
kemudian kakak tingkat dari Singapura tersebut menceritakan pengalaman temannya berkaitan dengan RS di kotanya, "saat teman saya periksa di sebuah RS di Indonesia, dia didiagnosa terkena batu ginjal. tetapi ketika dia mencoba menyembuhkan di Malaysia sana, dokter di sana berkata bahwa dia sehat wal afiat tidak ada satu batu pun di tubuhnya. teman saya kaget sekali!"
lalu teman saya bercerita meski tidak menyangkut Rumah Sakit,
"saya mengusahakan JAMKESMAS untuk anak pembantu saya. bukannya malah dipermudah, eh saya dilempar ke sana kemari sampai anak pembantu saya itu jadi gila beneran dan pembantu saya akhirnya terpaksa menjual harta bendanya untuk pengobatan yang sangat mahal karena tidak bisa dapat JAMKESMAS."
ya, beginilah realita. mencolok mata dan hati nurani. kesehatan ternyata betul-betul mahal harganya, apalagi di negara ini. bersyukur dan dijaga untuk yang sehat. dihimbau untuk tidak hanya sehat jasmani, tetapi sehat rohani juga.
semoga kalian berkunjung kembali ~♥
Komentar
Posting Komentar