Untuk Para Patriarkis

 - kumpulan tulisan pendek di instagramku


1.

Ada kemarahan yang hanya bisa dipahami perempuan yang ditindas patriarki sejak bergenerasi lalu. Kemarahan yang tidak akan bisa dimengerti para patriarkis. Kemarahan yang hanya bisa dipahami dengan empati dan cinta.


Patriarki menghilangkan empati dan cinta dalam hubungan asmara laki-laki dan perempuan. Patriarki hanya melihat perempuan dan relasi asmara dari kacamata kapitalisme untung rugi, sehingga mereka hanya mencari perempuan yang bisa dimanfaatkan hingga perempuan kehilangan semuanya: tubuh dan jiwanya.


Lalu mereka akan berkata bahwa perempuanlah yang salah karena telah menjadi tidak berguna dan memberontak dari relasi yang menggilas mereka. Mereka melabeli perempuan tidak berharga karena bekas dipakai dan pernah menikah. Seolah mereka lupa mereka lahir dari vagin* perempuan, vagin* yang mereka lecehkan tapi juga mereka kejar tanpa peduli HIV AIDS dan sipilis.


Mereka pula yang melabeli perempuan mandul padahal sperma mereka yang tidak berkualitas. Mereka akan terus melimpahkan semua kesalahan pada perempuan, termasuk ketidakmampuan menafkahi dengan melabeli perempuan matre, standar tiktok.


Patriarkis tidak akan pernah bisa berempati jika terus berlindung pada label-label usang untuk memutarbalikkan fakta agar bisa memanfaatkan perempuan.


2.

Patriarki tidak melihat perempuan sebagai manusia dengan kacamata empati. Patriarki melihat perempuan sebagai komoditi dengan kacamata keserakahan. Patriarki melihat perempuan sebagai robot yang harus bisa dikontrol, sebagaimana mereka mengontrol sejarah yang hanya mengagungkan laki-laki. Patriarki melihat perempuan dengan kacamata hitungan dagang yang harus menguntungkan mereka dan ada masa expired, khas kapitalisme. Patriarki melihat perempuan sebagai sosok yang tidak boleh punya celah dan harus serba bisa, namun masyarakat harus tetap memuja laki-laki yang tidak bisa apa-apa dan bertindak jahat.


"Untuk apa menikahi perempuan yang sudah di atas 30 tahun, gak nurut, gak cantik, gak bisa masak, gak mau hamil, gak mau urus rumah, mahar besar, dan ingin dinafkahi penuh dan diurus suami?", patriarkis mulai mempertanyakan nilai perempuan karena perempuan sudah mulai memahami bahwa nilai mereka lebih berharga dari yang para patriarkis takar.


Jika laki-laki bisa melihat perempuan sebagai manusia, pertanyaan di atas gak akan pernah ada.


3.

Kenapa menggaslight perempuan dengan sebutan bodoh saat dia kena tipu laki-laki? Kenapa membuat narasi mempunyai empati itu buruk?


Kenapa gak menyalahkan laki-laki yang memanipulasi keseluruhan dirinya, menggaslight, melakukan kekerasan dan teror untuk mengontrol perempuan, abuse of power, menggunakan ilmu hitam dan memutarbalik fakta?


Sama seperti kenapa gak mendidik laki-laki kerja domestik? Kenapa gak menyuruh laki-laki mengontrol nafsu birahinya?


Laki-laki bukan Tuhan yang selalu benar. Patriarki membuat laki-laki seolah Tuhan yang Maha Benar. Dan perempuan selalu salah. Tapi narasi diputarbalik dan dijadikan bahan olokan "perempuan emang selalu benar".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pencerahan Bermedia Sosial: Literasi Media di Internet

Ada Sesuatu yang Tertinggal dari Hubungan yang Gagal

Saorsa Utara, Coffee Shop Tempatku Bertumbuh Tahun 2019-2022