Postingan

Tarot Reading: Tren Baru Remaja untuk Mengungkapkan Kegelisahannya

Gambar
Tarot reading atau pembacaan tarot kini dikenal tidak hanya sebagai sarana meramal atau fortune teller yang lekat dengan dunia mistik. Tarot reading ternyata dapat digunakan sebagai sarana pengembangan diri dan konseling untuk membantu mencari pandangan baru dalam menyelesaikan masalah dalam kehidupan.  Tarot reading juga tidak lagi hanya melalui konsultasi bertatap muka, kini justru semakin laris karena bisa dijangkau dengan media sosial, seperti instagram, whatsapp dan line. Tak heran jangkauan penikmat jasa pembacaan tarot kini lebih luas variasi umur dan lokasinya, dari usia 15 hingga 70 tahun, dari Aceh hingga Papua. Komunitas yang menaungi pembaca tarot pun kini tumbuh sehat di berbagai kota besar di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Jogja, Semarang dan Surabaya. Saya berkenalan dengan Kak Danik Yanuar (36 tahun), seorang pembaca tarot professional yang berdomisili di Jogja. Perempuan yang pembawaannya riang ini, akrab dikenal sebagai pembaca tarot favorit remaja. Kurang lebih d...

Kemana Saya Harus Pulang?

Sebagai seorang anak yang tumbuh besar dari kota ke kota, menetap di satu tempat adalah hal asing. Bahkan hingga saat ini, di usia jelang kepala tiga, saya masih hidup berpindah karena pekerjaan maupun karena memutuskan untuk mengganti suasana tempat tinggal. Saya asing dengan kata pulang yang identik dengan menetap. Sebagai seorang anak yang tumbuh besar dengan keluarga yang tidak serumah, tinggal bersama dengan anggota keluarga yang lengkap adalah hal asing. Bahkan hingga saat ini, di usia yang sedang ranumnya diminta untuk berkeluarga, saya masih hidup dengan tidak satu rumah dengan keluarga saya karena pekerjaan keluarga saya maupun karena saya memutuskan untuk hidup mandiri. Saya asing dengan kata pulang yang identik dengan kumpul keluarga. Untuk merunut saya berasal dari suku bangsa apa saja saya kesulitan, apalagi untuk merunut kemana saya harus pulang. Lalu dari tahun ke tahun saya habiskan untuk mencoba mengalami seperti yang teman-teman saya alami, yakni pulang dan menetap. S...

Kesenangan dari Bercerita

Gambar
Mari kita isi postingan kali ini dengan obrolan ngalor-ngidul (utara-selatan). Ngalor-ngidul digunakan untuk istilah kemana-mana seperti pergi dari utara ke selatan. Jauh men. Jadi di kepalaku itu banyak banget yang mau aku tulis jadi postingan blog, tapi selalu end up nggak jadi. Kenapa? Pertama karena mager. Kedua karena masih krisis kepercayaan diri buat nulis. Bahkan di platform pribadi pun aku masih merasa tidak memiliki otoritas penuh terhadap tulisanku hahahaha. Ketiga karena aku memang tidak menyempatkan diriku sekedar berlatih menulis, padahal menulis sebenarnya adalah hal yang kusukai. Kabar baiknya setidaknya di postingan ini aku mencoba lagi. Tulisan panjang untuk blog sebenarnya cukup melelahkan buatku karena harus mikir lebih lama. Sedangkan untuk berpikir aja aku sulit hahahaha. Makanya lebih tertarik nulis kepsyen di Instagram atau status facebook yang pendek-pendek aja. Ya meskipun beberapa akhirnya jadi panjang juga karena hasrat berceracau yang tiba-tiba naik, sepert...

Akhir Tahun 2019, Mengakhiri Masa-Masa Sulit

Gambar
Tidak terasa ternyata 2 tahun berlalu sejak saya menulis post Melalui 2017 dengan Mengetahui Lebih Banyak . Post itu ketika saya baca kembali, membawa saya ke masa dimana saya sedang sangat tertekan dan penuh kebingunan dalam menjalani hidup sejak tahun 2016. Bagaimana saya menulis di post itu menunjukkan bahwa untuk menulis sebuah gagasan yang utuh saja saya tidak mampu karena terlalu kalut hahaha. Tapi, membaca lagi post itu membuat saya senang, karena saya pernah menulis ketika saya berada di masa sulit, sehingga ketika masa itu berlalu, saya menjadi lebih sadar bahwa masa sulit pasti akan berlalu dan dapat saya lalui. Meskipun masa itu berlalu setelah 2 tahun kemudian, yakni tahun 2019.

My Generations dan Posesif: Remaja di Indonesia dan Hal-hal yang Tidak Dibicarakan (review)

Gambar
Ceritanya udah lama banget pengen ngulas dua film yang mengubah akhir tahun 2017 saya menjadi akhir tahun terbaik: My Generations dan Posesif. Film lokal yang mengangkat isu tentang remaja dengan perspektif yang segar dan sangat intim. Ketidaktahuan saya tentang kedua film ini sebelumnya, berubah menjadi berkah karena sempat menonton kedua film ini. 

Dia Jodohku Bukan Ya?

Gambar
Belum lama ini saya mendapatkan pertanyaan, “dia jodohku bukan sih?” dari seorang teman. Ia meminta saya membuka kartu untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang menjebak tsb. Sebenarnya ada banyak macam jodoh dalam hidup ini. Sayangnya, media mainstream selalu menyempitkan dengan arti orang yang akan kita nikahi. Padahal jodoh bisa untuk urusan karir, pekerjaan, pertemanan, persaudaraan, pembelajaran kehidupan, dan urusan spiritual. Tidak hanya melulu soal asmara. Lho terus, jodoh itu sebenarnya artinya apa sih? Menurut pembelajaranku dari prosesku membaca tarot dan diskusi dengan temanku yang merupakan tarot reader juga, jodoh tidak hanya terdiri dari entitas tunggal, yakni satu orang saja. Jodoh bukan sebatas berarti seseorang yang kita nikahi. Jodoh juga bukan berarti sebuah obyek yang bisa datang tanpa diupayakan. Jodoh juga bukan entitas yang bisa dipaksakan kebenarannya sebagai kebenaran mutlak.  Secara universal, terlepas dari arti twinflame atau soulmat...

Menunggu Bertahun-tahun Untuk Bertemu Seseorang

Gambar
gambar dari google Selama lebih dari puluhan purnama Rangga harus menunggu agar bisa bertemu dengan Cinta. Pertemuan mereka berdua kemudian mengubah banyak hal dari diri masing-masing. Termasuk mengubah harapan saya terhadap jalan cerita AADC 2 menjadi kepingan debu, karena... tidak sesuai ekspektasi saya hahaha. Namun terlepas dari itu, saya belajar dari perjalanan Rangga dan Cinta di AADC 2 tentang menghargai pertemuan dengan seseorang. Sebab saya pun menunggu... Saya butuh menunggu hingga 10 tahun untuk bertemu dengan gebetan pertama saya. Itu baru bertemu, belum mengenalnya. Saya butuh bersabar selama 2 tahun hingga bisa mengenalnya. Saya baru bisa mengenalnya saat saya kelas 7 SMP karena kami ternyata satu kelas di satu SMP yang sama. Saya bahkan harus menunggu 2 tahun untuk bisa mengatakan bahwa saya naksir dia, yakni saat kelas 8 SMP. Proses menunggu ini ternyata tidak berbuah manis. Saya justru mengalami patah hati termengenaskan untuk pertama kalinya. Bagaimana ti...